Rabu, 27 Februari 2013

SETIA HINGGA AKHIR HIDUP

Saudara yang kekasih, renungan hari ini berawal dari upaya kerja keras Paulus memperkenalkan Injil ke jemaat Korintus hingga membangun jemaat Kristen pertama di kota yang sangat besar itu. Dari segi kerasulannya tidaklah layak kalau ada yang meragukan kerasulan Paulus, sebab dengan sepenuh hati dia bekerja selama hampir dua tahun tanpa memandang upah berupa materi yang selayaknya dia terima padahal tidak dia terima. Ada yang lebih menarik hati dan seluruh totalitas hidupnya lebih dari keuntungan material. Hadiah sorgawi yang akan dia terima sebagai seorang pemenang dalam perjuangan rohani besar. Paulus mengatakan bahwa dia mendisiplinkan diri dalam segala hal agar menjauhkan segala kemungkinan diksualifikasi dalam pertandingan seperti diterima atlet-atlet pelanggar disiplin hingga menghilangkan kesempatannya mendapatkan mahkota kemenangan. Dalam istilah Paulus agar kelak dia tidak ditolak.  Paulus mengatakan : Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Kor 9:25 dst).

Ada kemungkinan ditolak? yah....Paulus bercerita tentang Bangsa Israel sebagai bangsa yang telah mendapatkan belas kasihan Bapa. Mereka keluar dari Mesir, adalah karena kasih sang Bapa...kemudian di perjalanan mereka ditudungi oleh tiang api dan awan yang menurut Paulus sebagai baptisan yang diterima Israel sebagai bangsa yang Allahnya adalah Yahwe, dan tidak pernah didapat bangsa lain. bukan itu saja, mereka juga mendapatkan manna dan air yang keluar dari batu untuk memenuhi segala kalaparan dan kehausan mereka. Semuanya itu cukuplah menggambarkan kasih sayang Bapa yang tidak terukur dan tak terbatas agar Israel hidup mencapai identitasnya sebagai bangsa yang merdeka. Bagi banyak ahli itu adalah simbol sakramen perjamuan kudus, dimana Bapa memberikan dan mengenyangkan kita dari kekayaan bapa.

Dalam sejarah yang sama kita mengetahui bahwa karena ketidak disiplinan atau tepatnya karena pembangkangan mereka maka banyak diantara umat Israel itu sendiri mati dengan sia-sia. seperti ketika mereka mendapat daging berlimpah, tetapi karena mereka mengambil dengan sangat berlebihan kemudian mereka mengalami penyakit dan membunuh ribuan orang.
Kalau kita menghubungkan dengan kehidupan kita sebagai orang yang telah mendapat baptisan dari Tuhan kita Yesus Kristus, menerima kebaikan-kebaikan bapa dengan perjamuan perjamuan kudus. itu berarti bahwa kita adalah warga kerajaan sorgawi, sbab dengan kasih sayang bapa telah menerima kita dalam baptisan dan perjamuan-perjamuanNya. Tetapi menurut Paulus walau kit telah menerima semua itu, tidak secara otomatis walau jahat, menjadi penghianat, melakukan pekerjaan keberhalaan yang menjijikan, tetap menjadi pewaris kerajaan Allah.
Menurut John Weley, dalam teologi  empat kaki meja menerangkan bahwa kita memang telah terdaftar,namun belum memasuki ruang sukacita itu. ibarat pendukung sepak bola yang ingin memasuki stadion dan pamnggung kehormatan, walaupun dia telah memiliki karcis atau tiket, tetapi petugas masih memeriksa setiap calon. apakah dia akan mengacaukan pertandingan dengan senjata-senjata yang dia bawa secra tersembunyi. John Wesley mengatakan memang kita telah mendapat tiket itu dengan menerima baptisan dan perjamuan kudus, namun tetap akan ada seleksi akhir agar kita bernar-benar memasuki ruang pesta sukacita itu. Itulah yang disebut Paulus dengan kedisplinan. membiasakan diri mengikuti ritme keinginan Tuhan dengan segala kebaikan-kebaikannya. tetapi akan tiba saatnya setiap orang akan diperiksa dan di tahap akhir itulah ketahuan apakah kita layak atau tidak.
Dengan gamblang Paulus menjelaskan hal-hal yang bisa saja membelenggu kita sehingga jangankan menjadi pewaris kerajaan sorga bahkan akhirnya menjadi penghuni neraka. Paulus mengatakan: Jangan berbuat jahat seperti yang dilkukan Israel, jangan menjadi penyembah berhala,  jangan melakukan percabulan,  jangan mencobai Tuhan,dan jangan bersungut-sungut.
Di jaman akhir ini, perbuatan-perbuatan jahat nampaknya telah menjadi warna resmi kehidupan banyak manusia.Kejahatan terhadap manusia, lingkungn dan kepada Tuhan. lihatlah betapa semakin lama manusia semakin terkurung dengan egoisme sendiri dan tidak mengindahkan kehdiuapanorang lain. Biarlah orang lain hancur asalkan diriku selamat, biarlah kelompok lain hancur yang jelas kelompokku tetap berjaya. bahkan dari segi gereja, selalu tidak bisa terwujud agar gereja menjadi satu. sebab orang orang Kristen juga sangat sulit untuk menyatukan diri sendiri.(Yoh 17)  Kejahatan terhadap lingkungan....wah...semakin mengerikan. Lihatlah salah satu contoh bahwa mansuia tidak memikirkan bagaimana kehidupan hewan-hewan itu semua dimakan...akhirnya terancamlah kehidupan di planet ini. Mansuia bukan lagi menjadi gubernur pemelihara alam, tetapi menjadi hama paling ganas yang menghancurkan alam.
Praktek keberhalaan, wah...mungkin kata-kata atau informasi yang saya milikisangat sedikit dibanding dengan yang anda miliki. yang jelas praktek keberhalaan merambah desa hingga kota-kiota metropolitan dunia. mulai dari gubuk reot warga miskin hingga ke istana presiden Ronald Reagan....penyembahan setan amat menakutkan.
Percabulan berupa perselingkuhan dan praktek pemerkosaan atau aksi lain semakin menghiasi lembaran majalah, koran atau televisi kita. nampaknya semakin lama kekudusan seks dan keluarga semakin luntur. ini adalah dosa yang sangat dibenci oleh Tuhan. Banyak sekali ayat  yang berbicara tentang perjinahan, pemerkosaan dan semuanya itu berakhir dengan penjelasan bahwa Tuhan tidak menginginkan perilaku seperti itu dari kita.
Tidak bersungut-sungut dalam ayat ini disetir Paulus mengingat perjalanan bangsa Israel yang tidak melihat yang baik pemberian Tuhan di masa depan Israel. Israel lebih mengingingkan mereka tetap terjajah di Mesir dari pada berjalan beberapa langkah lagi untuk sampai di tanah perjanjian. Apa yang dimasak di periuk dan kuali orang Mesir nampaknya lebih lejat dari masakan istri-istri mereka. padahal mana mungkin sebagai bangsa terjajah menikmati daging dan susu dari belanga orang Mesir. dasar bangsa yang tidak mau mensyukuri dan tidak mau menderita demi masa depan yang merdeka. 
Paulus juga mengingatkan agar jangan mencobai Tuhan. Bebrapa minggu yang lalu waktu renungan kita terambil dari Mat 4:1-11 tentang pencobaan yang dialami Yesus, salah satu adalah mencobai Tuhan. Yesus mengatakan agar jangan mencobai Tuhan... kita juga mencapat pesan yang sama agar tidak menjadi manusia munafik dan mencobai Tuhan.
Boleh saja kita masih dalam keadaan keberdosaan dan akan mengurangi kemungkinan kita memasuki istana sorgawi itu, tetapi masih ada kesempatan saudara untuk bertobat lagi, be a born again christian. manusia yang lahir kembali, seperti kupu-kupu yang melepskan kepompongnya demi kehiduoan yang baru. Dan penting Setialah agar kita jangan jatuh kembali. setialah agar pada akhirnya kita beroleh mahkota kita.... syalom.

0 komentar:

Poskan Komentar