Kamis, 13 Juni 2013

ALLAH MENGASIHI ORANG BERDOSA
Pdt. Elson Lingga MTh

Saudara yang kekasih dalam Yesus Kristus, membaca renungan hari ini kita diarahkan melihat bagaimana sebenarnya gereja bersikap terhadap oang berdosa. Sebelumnya secara singkat diterangkan bahwa seorang Farisi bernama Simon mengundang Yesus makan ke rumahnya. Peristiwa seperti ini adalah hal yang biasa dalam kekerabatan orang Israel untuk mengikat persahabatan, hal yang sama pernah juga dilakukan Yesus dengan Zakeus, seorang kaya si pemungut cukai. Hari itu Yesus mendapat undangan dari seorang farisi bernama Sion. Wah ini pastiluar biasa, karena orang Farisi biasanya justru menjadi lawan Yesus sendiri...tentulah farisi ini adalah seorang, yang baik hati. Tapi tunggu dulu....
Saat Yesus telah masuk ke rumah Simon dan berbincang-bincang, tiba-tiba muncul pula seorang perempuan berdosa. kalau dikatakan berdosa sering Alkitab mau menjelaskan bahwa perempuan itu adalah seorang pelacur.Pelacur adalah seorang paling menjijikkan dan paling berdosa menurut orang Israel. Tak heran kjalkau seorang pelacur bisa di hukum rajam karena dosa-dosanya. Perempuan itu menangis dan air matanya membasahi kaki Yesus yang kemudian dia lap dengan rambutnya sendiri dan kemudian menuangkan minyak alabaster ke kepala Yesus. Ah....tak layaklah perjamuan yang dituan rumahi Simon disela pula dengan prilaku perempuan ini. Oleh karena itulah kemudian Simon protes terhadap Yesus, bahwa seorang nabi, guru seperti Yesus tidak layak menerima perlakuan sehebat apapun itu dari seorang berdosa, apalagi seperti perempuan pelacur itu.Jangankan menerima perlakuan seperti itu, sebenanra pakaiannyapun tidak bisa mengenai seorang guru atau nabi. Kalau seorang farisi mendapat hal seperti itu, di rumah dia akan membersihkan diri dan berdoa mohon ampun pada Tuhan. Tetapi Yesus kok....
Yesus kemudian menceritakan sebuah kisah bagaimana seorang toke menghapus utang dua orang, dan sudah pasti yang paling bersukacita adalah orang yang berhutang besar dan dihapuskan utangnya. Yesus menjelaskan bahwa perempuan itu memiliki utang besar berupa dosa, dan Allah sendiri telah menghapus utang dosa tersebut. Yesus tau apa yang ada di hati Simon maka Yesus mengatakan bahwa sebenarnya Simon adalah pendosa yang lebih ringan hutang dosanya sehingga rasa syukurnya menyambut kehadiran Yesus juga sangat kecil.
Memang tradisi orang Yahudi kalau seseorang mengundang tamunya untuk dijamu, tuan rumah harus memeluk tamunya dan menciumnya, dia juga biasanya membersihkan kaki tamunya dengan air, melapnya, dan kemudian memrcikkan wewangian ke tubuh tamunya. tapi ternyata Simon tidak melakukannya, justru Perempuan berdeosa itulah yang melakukannya. Lihatlah apa yang dikatakan Yesus:
 "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi (Luk 7:44-46)
Wah...ternyata Simon yang seorang Farisi tidak berubah...dia barang kali menganggap Jesus tak lebih dari dirinya sendiri, seorang yang tak layak untuk disambut dengan kehangatan, memeluk membersihkan kaki dan menyemprotkan wewangian. Bahkan Simon walau telah menjamu Yesus, masih tetap seorang Farisi yang membenarkan diri dan menganggap orang berdosa adalah orang yang terbuang dan tidak layak mendapat anugerah pengampunan dari Tuhan.

Anda tahu siapa orng Farisi? kaum Farisi digambarkan sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti. Dalam gulungan naskah-naskah Laut Mati, kaum Farisi dikatakan sebagai kaum yang suka mencari dan memerhatikan hal-hal yang sangat kecil. Mereka menjadi pengamat pelaksanaan hukum yang sangat teliti, karena mereka memiliki kerangka berpikir bahwa Allah mencintai orang yang taat hukum dan menghukum yang tidak patuh. Keprihatinan utama kaum Farisi adalah mengenai pembaruan Israel.
Kaum Farisi adalah pemimpin spiritual Yahudi yang berkembang pada masa Bait Allah ke-2, sekitar abad ke 2 SM Menurut para ahli, kaum Farisi adalah perkembangan dari kelompok Hasidim. Kelompok hasidim adalah kelompok yang menganggap diri mereka sebagai orang beragama yang saleh. Kelompok  Hasidim memisahkan diri dari orang biasa. Menurut Yosefus Falvius, pada masa pemerintahan Yohanes Hirkanus (135-104 SM), kaum Farisi mulai menunjukkan pengaruhnya di kalangan masyarakat. Kaum Farisi juga memiliki pengaruh di bidang politik, terutama pada masa Salome Alexandra (76-67 SM). Dengan penjelasan itu maka sudah pasti bahwa Simon adalah Farisi, orang yang saleh berpengaruh dan menentukan perkembangan rohani jemaat.
Dengan keterangan di atas jelaslah bahwa kelompok Simon adalah farisi yang mengandalkan pemahaman kesalehan yang menjauh dari orang jahat. Kelompok farisi ini adalah tokoh lembaga keagamaan baik dalam gereja maupun agama lain. Tapi dalam renungan ini justru Yesus mempertanyakan mereka kenapa?
1. Simon tidak sepenuh hati mengundang Yesus. Mungkin hanya agar kelihatan keren, mengundang tokoh fenomenal ke rumahnya, pada hal di dalam hatinya tidak demikian. Ada banyak tokoh yang berlaku sama seperti Simon ini, dia seolah olah tokoh yang bermasyarakat, tetapi bukanlah dari hatinya. Dia menyimpan kepalsuan. wah kalau seorang pekerja gereja yang selalu dekat dengan kegiatanibadah ternyata memiliki hati yang palsu alangkah berdukanya Tuhan...Yesus justru lebih menghargai siorang berdosa tersebut.
2. Ternyata perjumpaan dengan Tuhan tidak melahirkan Simon yang semakin merendahkan hati, bahkan dai anggap sebagai peristiwa biasa saja. Kita barang kali sering seperti itu...menganggap pemberian Tuhan sebagai hal yang tidk ada istimewanya...berbeda dengan perempuan berdosa tersebut yang sungguh menyesali dosanya dan kemudian merayakan pertemuan dengan Tuhan tersebut dalam sukacita besar...
3. Justru Simon si farisi menjadi penghambat orang lain berjumpa dengan Tuhan karena menganggap orang berdosa tersebut tidak layak di hadapan Tuhan. Bukankah orang sakit yang membutuhkan dokter?? tetapi ternyata gereja sekarang  masih sering mengambil sikap yang sama seperti dilakukan oleh Simon, menganggap diri paling layak, benar dan orang yang berdosa yang lain harus diluar...pandangan exklusive seperti  bisa merugikan orang Kristen itu sendiri. Bukankah kita ini adalah orang berdosa yang seharusnya tidak layak disdebut anak-anak Tuhan? tetapi oleh kebaikan Allah yang mengosongkan diri dan menjadi manusia, adalah lawatan pembenaran (Fil 2:5-11). Allah yang kudus membuat kita yang berdosa  ini menjadi layak oleh kematian Kristus. Itu sebenanya menjadi pembelajaran seumur hidupbagi kita....

0 komentar:

Poskan Komentar