Jumat, 26 Juli 2013

MENJADI SESAMA UNTUK BEROLEH HIDUP YANG KEKAL
Pdt. Elson Lingga MTh


Saudara yangkekasih,
Lukisan Orang Samaria yg baik hati
Dalam teks ini Yesus diuji oleh seorang guru agama Yahudi. Dia menanyakan bagaimanakah  cara agar mendapatkan kehidupan yang kekal. Mungkin semua orang gelisah akan hidup yang kekal itu, sebab semuanya akan memasuki ruang kematian dan kehidupan sesudah kematian itu segera tiba. Semua agama ternyata mempunyai dua konsep keadaan sesudah kematian itu,yakni akan mendapatkan sorga, tetapi bisa juga mendapatkan neraka. Kegelisahan itu milik orang-orang awam, tetapi tidak untuk ahli-ahli agama Yahudi. Mereka yakin melalaui pengamalan tuntutan hukum taurat Musa mereka akan memperoleh sorga, bukan neraka.Oleh karena itulah bagitu faham guru terhormat ini menjawab ketika Yesus menanyakan bagaimana anjuran Musa, dan dia menjawab: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ay. 27). Benar, kata Yesus lakukanlah demikian. Tapi guru itu masih bertanya siapakan  sesama ku itu?..  Maka Yesus kemudian menceritakansebuah perumpaan  tentang seorang Samaria yang baik hati.
Yesus dengan sangat jelas mengatakan bahwa ketika si tersamun itu tergeletak tak berdaya penuh luka, seorang imam dan seorang Lewi meninggalkan begitu saja orang tersamun tersebut. Justru seorang Samaria, yang selama ini dibenci oleh orang Yahudi termasuk kedua tokoh agama dan yang tersamun itu sendiri, menghampiri membersihkan luka dan membalutnya. Menaikkan keatas keledainya membawanya ke rumah perawatan, bahkan mengatakan kalau yang dua dinar ini masih kurang, nanti akan dia lunasi lunasi. Yesus berkata, siapakah sesama bagi yang tersamun tersebut? jawab Guru tersebut: orang Samaria yang menolongnya. Dan Yesus sekali lagi mengatakan: perbuatlah demikian.

Ada beberapa hal yang sangat menarik dalam hal ini, pertama ahli ahli agama berjubah itu, yang senantiasa mengucapan kasih ternyata tidak tergerak hatinya membantu, Mungkin saja mereka berpikir : nanti jubah kemilauku kotor"... atau mengatakan kalau dia telah mati dan tersentuh tanganku, aku menjadi najis....(seperti tradisi Yahudi yang mengatakan seperti itu). Ini sangat menyedihkan...mungkin saja yang tersamun itu adalah orang yang pernah mendengar uraian khotbahnya tentang kasih itu, tetapi mereka kering....palsu...jauh kata dari perbuatan.  Mereka sebenarnya membohongi diri dan TUHAN, sebab mereka adalah gembala Israel yang dipilih oleh Tuhan, Gembala yang memiliki pendengaran yang tajam, telinga yang bening mendengar, Mata yang melihat jelas, tangan yang ringan  terutama perasaan yang peka, yang semuanya inderanya hanya untuk merawat, menjamin keselamatan domba-dombanya agar sehat sejahtera. Mereka sebenarnya sosok yang bisa menjawab pergumulan orang Yahudi. Tetapi imam dan orang lewi dalam perumpamaan Yesus ini, yang hidup dari altar dan meja Tuhan ini, fakum tanpa rasa, empati dan solidaritas.

Kedua, orang Samaria yang mereka benci karena dianggap tidak hidup suci, tidak seagama, bahkan orang yang dalam ajaran-ajaran agamanya di cap kafir, ternyata menghampiri, membersihkan dan membalut lukanya. Menumpahkan anggurnya (pengganti alkohol penawar sakit, tentunya) menaikkan ke atas keledai dan mengiringnya ke rumah penginapan/perawatan. Ini menentang logika, ajaran agama mengatakan mengasihi sesama terlebih satu agama. Walau dia orang tak dikenal, asing tetapi hatinya tersentuh, simpati dan tangannya terulur. bahkan rela memberi dari yang dia mampu berikan (dia berjanji kalau biaya pengobatan yang dia beri 2 dinar kurang akan dia tambahi). Orang Samaria ini tidak melihat ke belakang, tentang betapa pahitnya perlakuan orang Yahudi ini terhadap bangsanya, tentang bagaimana mereka dianggap kafir, tak berharga. Walau dia tau di belakang banyak kesedihan, duka dan pasti air mata, dia tidak balas dendam dan berkata: mampus lho, tahankan, emang gua pikirin..." Wah dia orang lain, lain dari kelajiman, satu anomali kemanusiaan  yang selalu berfiukir sebab akibat. Mata kita diungkap, diberi pencerahan oleh Yesus, seperti orang Samaria ini, bahwa sesama itu adalah orang yang mengasihi sesamanya walaupun tidak satu marga, suku, bahkan tidak satu agama.
Bagi kita sebagai orang beriman, ada beberapa catatan yang mau ditegur oleh Yesus:
1. Alangkah seringnya kita berperan sebagai kaum imam, yang percaya tetapi terkerangkeng dengan retorika kasih tanpa mau menjadi sesama kepada orang lain. Kita sering hidup terisolir, mengagumi diri kita sendiri dan tidak peduli dengan mereka yang menderita di dekat kita.
2. Para pelayan seharusnya tidak perlu takut bahwa jubahnya akan kotor...mereka harus mendekati dan memberi diri menjawab. Terakhir ini cukup banyak pendapat jemaat yang menggelisahkan hati, salah satu dantaranya mengatakan bahwa para pendeta telah pula terhisap kepada roh mammonisme, ingin kaya dan memiliki rumah mewah serta perabotan berharga puluhan juta. Jemat tadi mengatakan kami sebenarnya ingin meminta pak pelayan itu menasehati kami, tetapi kami tak berani ke rumahnya yang mentreng itu, takut lumpur dikakikami mengotori lantai rumahnya yang indah itu...
3. Perumpamaan ini mengambarkan bahwa pelayan perlu meniru si orang Samaria tersebut, yang turun dan menghampiri si tersamun tadi untuk menyelamatkan. Gereja menjadi gambaran amannya status gereja, sekali gus menina bobo para pelayan dan jemaatnya. Sebenarnya kita harus kembali ke model pelayanan gereja mula-mula, gereja yang mobil bergerak menyembuhkan yang terluka.
4. Di tengah bangsa kita yang sedang sakit parah ini... bisakah kita menjadi orang samaria? walau gereja sering dianggap orang asing, musuh, tak beradat bahkan kafir....tetapi mampu memberi setets air penyejuk, dengan kesabarannya, kerendahan hatinya, pengorbanannya, hati tulusnya dan degan kasih yang bukan hanya kata-kata tetapi mau melakukannya juga. Sebagai mana Yesus telah memerankan orang Samaria pertama waktu dia datang ke tengah kemanusiaan, dan dengan kasihnya ingin menyelamatkan kita walau harus menjalani peristiwa penyaliban itu? kita dalah anak anak teologis Yesus, dia mengharapkan  agar kita menjadi pelaku pelaku kasih. lihatlah ayat dibawah ini:
"Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:34-40).

Renungan ini memokuskan pelaksanaan pembangunan Kerajaan Allah di bumi, seraya memahami bahwa mengasihi adalah etika resmi kemanusiaan tanpa syarat. Sebab dengan mengasihi sesama kita telah mengasihi Tuhan dan mengharapkan kehidupan abadi di sorga. Sabda kasih ini “tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh, … tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:11.14).

Sabda kasih ini “tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh, … tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:11.14). - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/07/13/renungan-minggu-1472013-mgr-pius-riana-prapdi#sthash.gknRnEtv.dpuf
Sabda kasih ini “tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh, … tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:11.14). - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/07/13/renungan-minggu-1472013-mgr-pius-riana-prapdi#sthash.gknRnEtv.dpuf
Sabda kasih ini “tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh, … tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:11.14). - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/07/13/renungan-minggu-1472013-mgr-pius-riana-prapdi#sthash.gknRnEtv.dpuf


0 komentar:

Poskan Komentar